SULAWESI SELATAN — Pekan ini, laman resmi Tesla di China memperbarui penyebutan sistem bantuan pengemudinya. Nama yang sebelumnya menggunakan kata 'Intelligent' diganti menjadi 'Tesla Assisted Driving' atau dalam bahasa Mandarin tertulis ???????. Ini bukan sekadar rebranding biasa, melainkan sinyal bahwa regulator China mulai tidak mentolerir klaim berlebihan soal teknologi otonom.
Selama lebih dari satu dekade, Tesla menjual janji mobil yang bisa menyetir sendiri. Label 'Full Self-Driving' yang melekat pada software-nya bahkan dibanderol hingga USD 15.000 (sekitar Rp 240 juta). Namun, faktanya sistem ini masih tergolong Level 2 dalam standar klasifikasi otonomi internasional. Artinya, mobil bisa membantu kemudi dan akselerasi, tapi manusia di balik kemudi tetap pemegang kendali utama.
Ini bukan kali pertama Tesla mengubah strategi penamaan di China. Sebelumnya, sistem ini disebut 'FSD Intelligent Assisted Driving'. Kemudian kata FSD dihilangkan. Kini, giliran kata 'Intelligent' yang dibuang dan diganti dengan nama merek itu sendiri. Pola ini menunjukkan tekanan regulator China terhadap klaim fungsi kendaraan yang tidak sesuai realitas.
Di Amerika Serikat, Tesla sempat berselisih dengan regulator California. Solusinya? Tesla menambahkan kata '(Supervised)' di belakang nama FSD dan beralih ke model berlangganan. Namun, pendekatan China jauh lebih tegas. Regulator di sana baru saja menerbitkan aturan ketat yang membalikkan tren door handle tersembunyi—sebuah langkah yang mengirim pesan jelas: klaim fitur harus akurat, tidak boleh menyesatkan.
CEO Tesla, Elon Musk, telah bertahun-tahun berjanji bahwa mobil otonom penuh akan hadir 'akhir tahun depan'. Janji itu diulang sejak 2014 dan hingga kini belum terwujud. Sementara itu, sistem FSD yang dijual tetap berfungsi sebagai Advanced Driver-Assistance Systems (ADAS) yang canggih, tapi bukan pengemudi otonom. Di jalan raya, pengemudi tetap harus sigap mengambil alih kapan saja.
Perubahan nama ini menjadi pengakuan tersirat bahwa membangun merek di atas klaim yang belum terbukti adalah masalah serius, terutama jika menyangkut keselamatan publik. Dengan nama 'Tesla Assisted Driving', konsumen tidak lagi dibuai ilusi bahwa mobil bisa jalan sendiri tanpa pengawasan.
Menariknya, perubahan ini baru berlaku di China daratan. Di situs Tesla Hong Kong—yang merupakan wilayah administratif khusus dengan aturan lalu lintas sendiri (setir kanan)—sistem itu masih dijual dengan nama 'Full Self-Driving' dalam bahasa Inggris dan 'fully automatic driving function' dalam bahasa China. Perbedaan ini menunjukkan betapa rumitnya strategi regional Tesla dalam memasarkan teknologi yang sebenarnya belum matang sepenuhnya.
Selain itu, peluncuran FSD di China sempat bergulir lalu ditarik kembali. Situasi ini membuat status sistem bantuan pengemudi Tesla di sana masih abu-abu. Dengan nama baru yang lebih realistis, Tesla mungkin berharap bisa meredam gesekan dengan regulator dan membangun kepercayaan konsumen secara perlahan—tanpa janji muluk yang terus-terusan diingkari.