Proyek Bitcoin DeFi Botanix Tutup Setahun Setelah Mainnet, Akui "Tidak Berhasil" di Pasar Kripto Lesu

Penulis: Chandra Kusuma  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 22:12:01 WIB
Botanix resmi menghentikan operasinya setelah satu tahun beroperasi di pasar kripto.

Botanix mengumumkan penghentian operasinya melalui akun X (Twitter) pada Selasa (10/6). "Itu tidak berhasil. Setidaknya tidak di pasar ini dan tidak dalam jangka waktu ini," tulis tim Botanix dalam sebuah utas yang langsung menjadi perbincangan hangat di komunitas kripto global.

Proyek yang baru berjalan setahun sejak mainnet-nya diluncurkan ini hanya berhasil mengunci total nilai aset (Total Value Locked/TVL) sebesar 119.500 dolar AS. Angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan pendanaan yang mereka kumpulkan dari dua putaran investasi pada 2023 dan 2024.

Mimpi Membangun "Ethereum di Atas Bitcoin" Gagal Total

Ambisi Botanix sebenarnya cukup jelas: memungkinkan kontrak pintar (smart contract) dan aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang lazim di Ethereum untuk "dicopas" dan berjalan di jaringan Bitcoin. Idenya adalah agar pemegang Bitcoin tidak hanya diam menunggu harga naik, tetapi bisa meminjamkan, mempertaruhkan (staking), atau memperdagangkan aset mereka di bursa terdesentralisasi (DEX).

Namun, realitas pasar berbicara lain. "Membuat Bitcoin bisa diprogram, produktif, dan terintegrasi ke dalam aktivitas keuangan nyata bukanlah tempat di mana pengguna dunia nyata berada saat ini," tulis Botanix dalam analisis pasca-mortem mereka.

Proyek ini bahkan dengan jujur mempertanyakan tesis fundamental industri: apakah Bitcoin memang ditakdirkan hanya sebagai aset cadangan (store of value) dan bukan sebagai jaringan yang produktif. "Jika itu benar, tidak akan pernah ada pasar untuk apa yang kami bangun, dan tidak ada jumlah waktu atau modal yang bisa mengubahnya," pungkas mereka.

Kematian Perlahan Sektor Pengembangan Bitcoin?

Penutupan Botanix memicu kekhawatiran akan nasib proyek layer-2 Bitcoin lain seperti Rootstock dan Citrea. Di tengah pasar kripto yang lesu—di mana harga Bitcoin telah kehilangan lebih dari 50% nilainya dari rekor tertinggi hampir 125.000 dolar AS pada Oktober lalu—minat untuk mengembangkan utilitas baru di atas Bitcoin makin meredup.

Roshan Dharia, CEO firma investasi aset digital Echo Base, menilai penutupan ini adalah pertanda awal dari konsolidasi besar-besaran. "Kami berada di industri yang terlalu banyak dibangun, dengan terlalu banyak jaringan bersaing untuk memperebutkan pengguna, pengembang, dan modal. Kami memperkirakan dinamika ini akan mendorong lebih banyak penggabungan dan penutupan hingga tahun 2026," ujarnya kepada CoinDesk.

Jalan Alternatif: Bitcoin "Bungkusan" Terbukti Lebih Laku

Menariknya, Botanix sendiri mengakui bahwa solusi yang lebih sederhana sudah ada dan berfungsi: token Bitcoin yang "dibungkus" (wrapped Bitcoin/wBTC). Token seperti wBTC memungkinkan Bitcoin diperdagangkan dan di-staking di jaringan lain seperti Ethereum dengan representasi 1:1.

"Untuk pinjaman, imbal hasil, dan leverage, wBTC di layer-2 serba guna yang matang sudah benar-benar memadai," tulis Botanix. "Pengguna telah memilih dengan perilaku mereka, dan vonisnya adalah bahwa asumsi kepercayaan dari representasi terbungkus di Ethereum dapat diterima oleh hampir semua orang yang menginginkan DeFi dalam denominasi Bitcoin."

Pendekatan ini kini diadopsi oleh pemain besar seperti Coinbase dan Circle yang baru-baru ini meluncurkan token Bitcoin sintetis mereka sendiri, menargetkan investor institusional yang menginginkan eksposur ke ekosistem DeFi tanpa harus meninggalkan jaringan utama Bitcoin.

Reporter: Chandra Kusuma
Back to top