Gelombang tinggi hingga 4 meter berpotensi menerjang wilayah perairan Selat Makassar bagian selatan pada 2-5 September 2026, mengancam keselamatan ratusan nelayan dan kapal penyeberangan di Sulawesi Selatan. BMKG mencatat kecepatan angin di kawasan tersebut mencapai 31 knot, jauh melampaui batas aman bagi perahu kecil. Imbauan ini dikeluarkan menyusul peningkatan pola angin di kawasan selatan ekuator Indonesia.
MAKASSAR — Nelayan di pesisir Sulawesi Selatan yang biasa melaut melalui Selat Makassar diminta menahan diri selama empat hari ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi tinggi gelombang di perairan tersebut bisa menembus empat meter pada periode 2-5 September 2026 — kondisi yang jauh dari kata aman untuk perahu nelayan berukuran kecil.
Peringatan ini bukan tanpa alasan. Pola angin di kawasan selatan ekuator Indonesia sedang bergerak aktif, bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5 hingga 31 knot.
Menariknya, angin terkuat tidak berpusat di laut lepas, melainkan justru terkonsentrasi di dua titik strategis: Laut Jawa dan Selat Makassar bagian selatan. Artinya, nelayan yang beroperasi di sekitar perairan Parepare, Barru, hingga Pangkep perlu ekstra waspada.
“Risiko tinggi keselamatan pelayaran wajib diwaspadai oleh perahu nelayan apabila kecepatan angin mencapai lebih dari 15 knot dengan tinggi gelombang di atas 1,25 meter,” kata Pelaksana Tugas Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Agie Wandala Putra, di Jakarta, Kamis.
BMKG memberikan panduan jelas soal batas aman pelayaran berdasarkan jenis moda transportasi laut:
Dengan kecepatan angin yang diprediksi mencapai 31 knot, hampir seluruh jenis kapal di Selat Makassar berada dalam zona bahaya. Kapal feri rute penyeberangan antar pulau yang melayani jalur Makassar–Bajoe atau Makassar–Parepare perlu melakukan penyesuaian jadwal.
Menghadapi kondisi ini, nelayan kecil yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan harian disarankan tidak memaksakan diri melaut. Operator kapal tongkang yang biasa mengangkut hasil tambang dan logistik di perairan timur Kalimantan–Sulawesi juga diminta mengecek prakiraan cuaca secara berkala sebelum memutuskan berlayar.
Wilayah yang masuk dalam daftar waspada bukan hanya Selat Makassar. BMKG juga menyoroti potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan lain di Indonesia pada periode yang sama, mengingat pola angin yang bergerak aktif di selatan ekuator masih akan berlangsung beberapa hari ke depan.
Bagi masyarakat pesisir yang memiliki keluarga berprofesi sebagai nelayan, informasi ini patut disebarluaskan. Keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada hasil tangkapan yang bisa ditunda beberapa hari.