SIBF 2026 di Makassar Catat Potensi Investasi Rp9,64 Triliun, Komitmen Ekspor UMKM Sulampua Melonjak Jadi Rp818,5 Miliar

Penulis: Chandra Kusuma  •  Minggu, 01 November 2026 | 10:02:02 WIB
Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda menegaskan komitmen investasi dan perdagangan perlu berlanjut menjadi realisasi berkelanjutan.

MAKASSAR — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan bersama Pemprov Sulsel dan pemerintah daerah di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) menggelar SIBF 2026 sebagai pengembangan dari Anging Mammiri Business Fair (AMBF) dan South Sulawesi Investment Forum (SSIF) yang sejak 2024 berjalan lewat Forum PINISI SULTAN. Forum itu menawarkan 43 proyek investasi potensial dari kawasan Sulampua.

Sebanyak 98 pertemuan bisnis atau one-on-one meeting difasilitasi dengan lebih dari 30 calon investor dari dalam dan luar negeri. Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda menegaskan ukuran keberhasilan forum tidak berhenti pada besaran komitmen.

"Keberhasilan forum investasi dan perdagangan tidak hanya diukur dari besarnya komitmen yang dihasilkan, tetapi juga dari realisasi investasi dan transaksi perdagangan secara berkelanjutan," kata Rizki.

47 UMKM Sulampua Bertemu 44 Pembeli dari 20 Negara

Dari sisi perdagangan, komitmen ekspor SIBF 2026 lahir dari kemitraan 47 UMKM se-Sulampua dengan 44 pembeli dari 20 negara. Sulawesi Selatan menyumbang Rp740,6 miliar dari total Rp818,5 miliar.

Tujuh UMKM Sulsel juga memperluas akses pasar melalui kerja sama dengan jaringan ritel modern dalam negeri. Rangkaian agendanya mencakup promosi produk UMKM unggulan, empat sesi talkshow, business matching, hingga kunjungan langsung ke lokasi investasi.

Secara keseluruhan, sekitar 900 peserta hadir, terdiri atas perwakilan pemerintah daerah, investor, mitra bisnis, kamar dagang, perwakilan kedutaan besar, serta Kantor Perwakilan BI se-Sulampua.

Hilirisasi dan Infrastruktur Jadi Syarat Tarik Investasi

Pemerintah daerah dalam forum itu menekankan pentingnya iklim investasi yang kondusif dan percepatan hilirisasi komoditas unggulan. Pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan dinilai perlu ditopang infrastruktur serta konektivitas yang memadai.

Dukungan itu dibutuhkan untuk memperkuat rantai pasok dan mendorong pemerataan ekonomi. Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta yang hadir secara virtual menyoroti arah penguatan kedua sektor.

"Penguatan kedua sektor tersebut perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah, diversifikasi ekonomi, serta konektivitas antarwilayah agar potensi unggulan Sulampua dapat terhubung dengan rantai nilai global," katanya.

Skema Pembiayaan hingga KPBU Libatkan DJPPR dan SMI

BI mengedepankan prinsip Impactful, Inclusive, Integrated, dan Synergy (3I dan 1S) dalam penyelenggaraan forum. Prinsip itu mencakup pencapaian hasil konkret, perluasan partisipasi pelaku usaha, keterpaduan program investasi dan perdagangan, serta penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

SIBF 2026 juga melibatkan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan serta PT Sarana Multi Infrastruktur dalam penyiapan proyek dan pengembangan skema pembiayaan, termasuk Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Kolaborasi dengan trading house dan jaringan ritel modern ditempuh untuk memperluas akses pasar UMKM. Promosi dan fasilitasi bisnis diperkuat lewat market sounding, business matching, serta pendampingan berkelanjutan.

Rangkaian upaya itu diharapkan tidak berhenti pada komitmen investasi dan perdagangan, tetapi berlanjut menjadi realisasi yang memberi dampak bagi perekonomian daerah dan memperkuat posisi Sulampua dalam rantai nilai global.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: sulselsatu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top