GOWA — Pemerintah Kabupaten Gowa memperkuat koordinasi lintas wilayah guna menghadapi tantangan perubahan iklim yang mengancam keberlanjutan produksi pertanian. Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Andy Azis, menekankan bahwa kesamaan persepsi antar pemerintah daerah menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan di tengah fenomena El Nino yang sulit diprediksi.
Kabupaten Gowa saat ini berbatasan langsung dengan delapan daerah, yakni Makassar, Maros, Takalar, Bone, Bulukumba, Sinjai, Bantaeng, dan Jeneponto. Sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sulawesi Selatan, Gowa memikul tanggung jawab besar untuk memastikan stabilitas produksi tetap terjaga meskipun cuaca tidak menentu.
“Pola cuaca yang kian sulit ditebak menuntut kita untuk lebih bijaksana dalam mengelola setiap tetes air yang mengalir di jaringan irigasi kita,” kata Andy Azis saat membuka sosialisasi rencana tata tanam Komisi Irigasi di Gowa, baru-baru ini.
Target Tekan Kebocoran Air Irigasi Hingga 30 Persen
Salah satu fokus utama pemerintah daerah saat ini adalah memperbaiki efisiensi distribusi air pada jaringan irigasi strategis. Beberapa titik krusial yang dikelola meliputi Daerah Irigasi (DI) Kampili seluas 10.518 hektare, DI Bissua seluas 10.785 hektare, serta wilayah layanan dari DI Bili-Bili.
Data teknis menunjukkan adanya tantangan besar berupa tingkat kehilangan air dalam distribusi yang masih menyentuh angka 20 hingga 30 persen. Kondisi infrastruktur yang membutuhkan rehabilitasi menjadi penyebab utama air tidak terserap maksimal oleh lahan persawahan warga.
“Kita harus menekan angka ini sekecil mungkin agar air sampai ke sawah petani secara maksimal,” tegas Andy Azis terkait urgensi perbaikan infrastruktur irigasi.
Ancaman Alih Fungsi Lahan Sawah di Gowa
Selain masalah distribusi air, Pemkab Gowa mengidentifikasi penyusutan lahan baku sawah sebagai ancaman serius bagi masa depan pertanian. Laju alih fungsi lahan di wilayah ini diperkirakan mencapai 100 hingga 150 hektare setiap tahunnya.
Kondisi tersebut menuntut Komisi Irigasi untuk menyusun rencana tata tanam yang lebih realistis dan terintegrasi. Terdapat tiga sasaran utama yang ingin dicapai, yakni penyelarasan informasi prakiraan curah hujan, penetapan alokasi air yang optimal, serta sinkronisasi jadwal tanam di tingkat lapangan.
Agenda ini merupakan implementasi dari kebijakan RPJMD Kabupaten Gowa untuk mewujudkan sektor pertanian yang maju dan mandiri. Integrasi data cuaca menjadi dasar utama agar petani tidak mengalami kerugian akibat salah perhitungan musim.
Sinergi Lintas Sektor untuk Petani
Ketua Komisi Irigasi Kabupaten Gowa, Sujjadan, menjelaskan bahwa keberhasilan tata kelola air sangat bergantung pada penguatan koordinasi antarinstansi. Sinergi ini diperlukan agar kebijakan yang diambil pemerintah benar-benar berdampak positif bagi produktivitas petani di desa-desa.
“Forum ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah seluruh pemangku kepentingan agar kebijakan pengelolaan air dan pola tanam benar-benar berpihak kepada petani dan mampu menjaga ketahanan pangan daerah,” ujar Sujjadan yang juga menjabat Kepala Bappeda Gowa.
Hasil dari pertemuan ini akan menjadi pedoman bersama dalam pelaksanaan Musim Tanam II tahun 2026. Pemerintah berharap seluruh pemangku kepentingan di Sulawesi Selatan memiliki komitmen yang sama dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di tengah ancaman krisis iklim global.