SULAWESI SELATAN — Marc Marquez memasuki fase krusial perburuan gelar juara dunia MotoGP 2025 dengan mentalitas baja. Tertinggal 40 poin dari pemuncak klasemen Jorge Martin dianggapnya sebagai situasi yang normal dalam kejuaraan sepanjang musim. Ia menilai konsistensi di paruh kedua musim akan menjadi penentu utama, bukan sekadar kemenangan di satu atau dua seri.
Pernyataan ini keluar saat Marquez mulai menemukan ritme terbaiknya bersama Desmosedici GP25. Setelah melalui adaptasi awal yang cukup menantang, ia kini merasa semakin nyaman dengan motor dan tim. Hal itu yang membuatnya percaya diri bisa memangkas jarak poin secara bertahap di setiap seri tersisa.
Faktor Mental dan Pengalaman Balapan
Marquez bukan pembalap yang mudah terintimidasi oleh angka di klasemen. Pengalaman merebut enam gelar juara dunia membuatnya paham betul bagaimana tekanan bekerja di akhir musim. Ia justru melihat defisit 40 poin sebagai tantangan yang memicu adrenalin balapnya.
“Ini bukan jarak yang besar jika kami konsisten. Banyak hal bisa terjadi dalam beberapa balapan ke depan,” ujar Marquez. Ia menambahkan bahwa performa di kualifikasi dan sprint race akan menjadi kunci untuk menekan Martin sebelum balapan utama dimulai.
Dinamika Tekanan di Tim Pabrikan
Menariknya, situasi ini menempatkan Marquez pada posisi yang berbeda dibandingkan rivalnya. Sebagai pembalap yang sudah pernah juara, ia tidak terbebani ekspektasi berlebihan. Sebaliknya, Martin yang tengah memimpin klasemen justru berada di bawah tekanan untuk mempertahankan keunggulan.
Marquez menyebut bahwa tekanan justru lebih terasa bagi pemimpin klasemen. “Dia punya banyak hal untuk dijaga, saya tidak. Saya hanya perlu terus menyerang dan memaksimalkan setiap kesempatan,” katanya. Sikap ini menunjukkan pendekatan psikologis yang cerdas dalam perburuan gelar.
Strategi Ducati dan Pertarungan Internal
Pertarungan ini juga menjadi ujian bagi Ducati dalam mengelola dua pembalap utamanya. Marquez dan Martin sama-sama mengendarai motor yang kompetitif, namun pendekatan mereka berbeda. Marquez mengandalkan pengalaman dan kemampuan membaca balapan, sementara Martin mengandalkan kecepatan murni.
Sisa musim akan menjadi ajang pembuktian siapa yang mampu mengelola ban lebih baik di kondisi lintasan berbeda. Marquez menegaskan timnya akan terus mengevaluasi data dari setiap seri untuk mencari celah perbaikan. Ia tidak mau membiarkan selisih poin semakin melebar di dua seri terakhir.
Dengan delapan seri tersisa, Marquez menghitung masih ada banyak poin maksimal yang bisa diraih. Ia mengingatkan bahwa dalam MotoGP modern, satu balapan bisa mengubah segalanya. Kegagalan teknis atau insiden di lintasan bisa dengan cepat menghapus keunggulan 40 poin milik Martin.
Marquez pun menegaskan komitmennya untuk tampil agresif namun tetap cerdas. Ia tidak akan mengambil risiko berlebihan di awal balapan yang bisa berujung crash. Target utamanya adalah podium secara konsisten sambil menunggu peluang untuk meraih kemenangan demi kemenangan.