SULAWESI SELATAN — Petugas Pos Pantau Gunung Dukono, Bambang Sugiono, melaporkan erupsi terjadi pukul 15.10 WIT. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu teramati bergerak ke arah barat laut dengan intensitas tebal. Hingga laporan dibuat, erupsi masih berlangsung.
PVMBG memperpanjang rekomendasi larangan aktivitas di radius 4 km dari Kawah Malupang Warirang. “Masyarakat dan wisatawan tidak boleh mendaki atau mendekati kawah,” ujar Bambang dalam keterangan resmi.
Karena sebaran abu vulkanik tidak tetap—bergantung arah dan kecepatan angin—warga di sekitar gunung diminta selalu menyediakan masker. Abu vulkanik mengancam sistem pernapasan jika terhirup dalam konsentrasi tinggi.
Sepanjang tahun ini, Gunung Dukono sudah meletus 181 kali. Data PVMBG periode 24 jam terakhir (Kamis, 11 Juni 2026 pukul 00.00-24.00 WIT) menunjukkan aktivitas seismik yang dominan: 51 gempa letusan dengan amplitudo 6-34 mm dan durasi 28-141 detik.
Selain itu, tercatat 44 kali gempa low frequency (amplitudo 3-6 mm), satu gempa tektonik jauh (amplitudo 21 mm, S-P 43,16 detik), dan satu tremor menerus dengan amplitudo dominan 4 mm.
PVMBG menekankan bahwa letusan Gunung Dukono bersifat periodik dengan abu vulkanik yang keluar secara menerus. Pola ini berbeda dengan gunung api tipe eksplosif yang memiliki jeda panjang. “Area landaan abu tidak tetap, jadi warga harus waspada setiap saat,” kata Bambang.
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Status Waspada (Level II) berarti masih ada potensi peningkatan aktivitas, namun belum mengarah ke level Siaga (III) atau Awas (IV). PVMBG terus memantau secara visual dan instrumental dari Pos Pantau di Halmahera Utara.