SULAWESI SELATAN — Kenaikan harga komponen impor ini bukan hanya soal angka di papan daftar harga. Di lapangan, efeknya langsung mengubah kebiasaan pemilik kendaraan. Alih-alih mengganti komponen yang aus atau rusak, banyak yang memilih untuk menambal sementara atau bahkan membiarkan kendaraannya di rumah.
Kondisi ini paling terasa di bengkel-bengkel kecil dan menengah yang biasanya melayani perawatan harian. Pemilik bengkel mengaku omset mereka turun karena jadwal servis rutin banyak yang molor.
Konsumen jadi lebih selektif. Perbaikan yang sifatnya darurat tetap jalan, tapi untuk penggantian komponen yang masih bisa ditunda, mereka pilih menunggu.
Pemasukan montir yang mengandalkan jasa dan tip ikut terpukul. Dengan jumlah kendaraan yang masuk ke bengkel berkurang, otomatis volume pekerjaan mereka menurun.
“Dulu setiap hari bisa ngerjain 5-6 unit, sekarang paling 2-3 unit. Tip dari pelanggan juga ikut kecil karena total biaya servis sudah membengkak duluan,” ujar seorang montir di bengkel kawasan Jakarta Timur, yang enggan disebut namanya.
Kenaikan harga tidak merata di semua jenis suku cadang. Komponen yang masih diproduksi lokal relatif stabil, namun barang-barang impor seperti filter oli, busi, kampas rem, hingga beberapa komponen kelistrikan mengalami lonjakan harga paling tinggi.
Distributor suku cadang mencatat kenaikan rata-rata mencapai 15 hingga 20 persen sejak kuartal terakhir tahun lalu. Kondisi ini diperparah dengan belum stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Untuk menekan biaya, sebagian pemilik kendaraan mulai beralih ke suku cadang alternatif atau produk aftermarket yang harganya lebih miring. Bahkan, permintaan untuk komponen bekas yang masih layak pakai ikut naik.
Praktisi otomotif menyarankan pemilik kendaraan untuk lebih disiplin dalam perawatan preventif. Merawat komponen secara rutin dinilai lebih murah ketimbang mengganti komponen yang sudah rusak parah di tengah harga yang sedang mahal.
Belum ada tanda-tanda harga suku cadang akan segera turun dalam waktu dekat. Para pelaku bengkel dan montir hanya bisa berharap nilai tukar rupiah segera membaik agar bisnis mereka bisa kembali bergairah.