MAKASSAR — Capaian ini menunjukkan gerakan lingkungan yang lahir dari akar rumput di Sulawesi Selatan terus mendapatkan pengakuan nasional. Jamaluddin, pegiat asal Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, meraih Kalpataru Adya Kategori Perintis. Sementara itu, Komunitas PM WTC dari Dusun Cerekang, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, memenangkan Kategori Penyelamat Lingkungan.
Rehabilitasi Lahan Kritis yang Lahirkan Ketahanan Pangan
Jamaluddin tidak menyangka aktivitas konservasi yang dirintisnya sejak bertahun-tahun lalu bisa sampai ke tahap ini. "Pertama tidak percaya apa yang kita lakukan selama ini bisa sampai tahap Kalpataru. Ini penghargaan tertinggi dari negara di bidang lingkungan hidup, jadi tentu kami sangat bangga dan bersyukur," ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Dedikasinya mencakup rehabilitasi lahan kritis melalui penanaman pohon dan konservasi tanah. Namun, yang membuatnya unik adalah pendekatan literasi lingkungan yang ia bangun melalui Rumah Koran, sebuah rumah baca yang dirintis sejak 2014. Rumah ini menjadi pusat edukasi warga tentang pertanian berkelanjutan dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Dari gerakan itu, lahir aksi nyata seperti pelestarian mata air, pembangunan embung pertanian, hingga pengembangan pertanian organik. Hasilnya, pertanian di Kanreapia tetap produktif sepanjang musim, baik saat hujan maupun kemarau. "Yang kami lakukan berawal dari kebutuhan menjaga desa dan sumber kehidupan masyarakat," katanya.
Peran Pemerintah Daerah dalam Fasilitasi Penghargaan
Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menyebut capaian Jamaluddin menjadi kebanggaan bagi seluruh warga Kabupaten Gowa. "Dedikasi beliau selama bertahun-tahun dalam menjaga lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat menjadi contoh yang patut diteladani," ujarnya. Jamaluddin juga mengapresiasi pendampingan dari Pemprov Sulsel, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulsel, serta Pemkab Gowa selama proses seleksi tingkat nasional.
Komunitas Adat di Luwu Timur: 700 Hektare Hutan Terjaga, Ekonomi Tumbuh
Di Luwu Timur, Komunitas PM Wija To Cerekang berhasil menjaga sekitar 700 hektare Hutan Adat Cerekang dari ancaman pembalakan liar dan perambahan. Mereka tidak hanya melindungi sumber mata air dan keanekaragaman hayati, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Langkah ini menjadikan hutan adat sebagai sumber kehidupan sekaligus identitas budaya yang terus dirawat secara turun-temurun.
Penghargaan Kalpataru 2026 untuk dua pegiat asal Sulsel ini membuktikan bahwa kerja-kerja lingkungan berbasis komunitas masih menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem di Indonesia. Tahun ini, total ada 16 penerima Kalpataru tingkat nasional.