MAKASSAR — Ekonomi rumah tangga di Sidrap menjadi yang paling sensitif terhadap gejolak harga di Sulawesi Selatan. Data BPS Sulsel menunjukkan inflasi tahunan di daerah ini mencapai 4,04 persen, jauh di atas Kota Palopo yang hanya 2,25 persen.
Secara provinsi, inflasi bulanan tercatat 0,09 persen dan year to date 2,18 persen. Artinya, mesin ekonomi makro Sulsel masih berjalan moderat.
Menurut akademisi ekonomi Universitas Negeri Makassar, Abd Rahim, Sidrap adalah wilayah dengan sensitivitas harga tinggi atau high price sensitivity region. Kenaikan harga sekecil apa pun di pasar langsung terasa hingga ke dapur rumah tangga.
“Inflasi 4 persen itu masih dalam batas wajar. Jangan buru-buru dianggap buruk. Ini lebih kepada dinamika pasar yang hidup,” ujarnya kepada Katasulsel.com di Makassar.
BPS mencatat dua kelompok pengeluaran menjadi penyumbang utama inflasi. Pertama, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 10,62 persen—didorong harga emas perhiasan yang ikut mengerek indeks. Kedua, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,4 persen.
Komoditas yang kerap muncul sebagai pemicu inflasi masih sama: beras, cabai, tomat, minyak goreng, dan emas perhiasan. Nama-nama lama yang selalu punya peran baru setiap bulan.
Abd Rahim menegaskan bahwa inflasi dalam kadar tertentu justru menjadi tanda ekonomi tidak beku. Ia menyebut istilah inflation is not always enemy. Sidrap bukan sedang kalah atau tertekan, melainkan menjadi cermin paling sensitif dari ekonomi rakyat yang cepat panas dan cepat terasa.
Sebaliknya, inflasi rendah di Palopo (2,25 persen) bisa berarti tekanan permintaan yang lebih jinak, atau harga yang lebih stabil.
Dampak langsung dirasakan pada daya beli harian. Kenaikan harga di kelompok makanan dan perawatan pribadi membuat pengeluaran rumah tangga meningkat lebih cepat dibanding daerah lain. Namun, karena inflasi masih di bawah 5 persen, tekanan belum masuk kategori darurat.
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Sidrap berada di angka 111,66, sejalan dengan rata-rata provinsi.
Dengan stok komoditas pangan yang relatif aman dan permintaan yang stabil, inflasi Sulsel diperkirakan tetap terkendali. Pemerintah daerah diharapkan terus memantau harga di level pedagang eceran agar gejolak tidak meluas ke sektor lain.
“Yang penting jangan sampai ada panic buying atau spekulasi di tengah masyarakat. Itu yang bikin inflasi melonjak tidak wajar,” kata Abd Rahim.