SULAWESI SELATAN — Per Maret 2026, total pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp 320 triliun. Dari jumlah tersebut, Portofolio Hijau tercatat sebesar Rp 167 triliun, menjadikan bank bersandi saham BMRI ini sebagai pemimpin pasar pembiayaan hijau nasional.
Komposisi terbesar portofolio hijau tersalur ke sektor pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Hayati berkelanjutan senilai Rp 113 triliun. Disusul produk eco-efficient Rp 15,4 triliun, energi terbarukan Rp 12,2 triliun, bangunan berwawasan lingkungan Rp 10,1 triliun, dan transportasi ramah lingkungan Rp 10 triliun.
Emisi Karbon Operasional Turun 32 Persen Sejak 2019
Bank Mandiri juga mencatatkan penurunan emisi gas rumah kaca operasional yang signifikan. Sepanjang 2025, emisi Cakupan 1 dan Cakupan 2 tercatat 243.736 ton CO2e, turun 32 persen dari baseline 2019 yang sebesar 358.753 ton CO2e.
Penurunan ini didorong optimalisasi bangunan hijau, penggunaan kendaraan listrik dan hybrid, serta pemasangan panel surya di sejumlah kantor. Perhitungan emisi mengacu pada standar Greenhouse Gas Protocol dan pedoman GRI 305.
Tata Kelola Keberlanjutan Raih Skor AA dari MSCI
Dari sisi governance, strategi keberlanjutan Bank Mandiri diawasi langsung oleh Wakil Direktur Utama dan dilaporkan secara berkala ke Risk Management Committee serta Komite Pemantauan Risiko Dewan Komisaris. Kualitas tata kelola ini divalidasi oleh lembaga pemeringkat internasional.
MSCI ESG Rating memberikan skor AA, nilai terbaik di Indonesia. Sementara Sustainalytics ESG Risk Rating menempatkan Bank Mandiri pada kategori Negligible Risk, posisi tertinggi di antara bank-bank ASEAN.
Henry Panjaitan mengatakan, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum memperkuat semangat keberlanjutan melalui kolaborasi dengan regulator, pelaku industri, dan masyarakat. "Bagi Bank Mandiri, sustainability merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang, bukan inisiatif terpisah," ujarnya.