MAKASSAR — Hasil penimbangan sampah yang berhasil dikumpulkan menunjukkan komposisi yang beragam. Sampah residu mendominasi dengan berat 69,43 kilogram, disusul sampah organik sebanyak 35,12 kilogram, sampah anorganik 30,34 kilogram, dan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) seberat 4,10 kilogram.
Munafri: Kesadaran Lingkungan Harus Dimulai dari Rumah Tangga
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi menegaskan bahwa perubahan besar dalam menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, kebiasaan baik harus dibangun dari lingkup terkecil, yakni keluarga dan rumah tangga.
"Perubahan besar dalam menjaga bumi tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran dan kebiasaan baik yang dibangun dari rumah tangga," kata Munafri dalam sambutannya di halaman Balai Kota Makassar.
Ia menilai peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial belaka. Momentum tersebut harus menjadi penggerak partisipasi masyarakat dalam aksi nyata pelestarian lingkungan.
Edukasi Pemilahan Langsung di Lapangan
Dalam aksi plogging tersebut, setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) mendapat tanggung jawab untuk memungut sekaligus memilah sampah sesuai kategorinya. Langkah ini menjadi edukasi langsung bagi aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Kegiatan ini diikuti jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ASN, tenaga kebersihan, komunitas lingkungan, hingga masyarakat umum. Turut hadir mendampingi Wali Kota, Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa, Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, Sekretaris Daerah Andi Zulkifli Nanda, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Makassar Helmy Budiman.
Munafri mengapresiasi para ketua RT yang aktif memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan. Ia mencontohkan salah satu ketua RT di Kecamatan Rappocini yang dinilainya tanpa henti memberikan pemahaman kepada warga.
Rangkaian Program Lingkungan Sepanjang 2026
Pemkot Makassar menyiapkan rangkaian kegiatan lanjutan pasca peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Agenda tersebut mencakup aksi pemilahan sampah secara virtual, peluncuran Gerakan Nasional Indonesia Asri, hingga talkshow lingkungan yang melibatkan berbagai pihak.
Tema tahun ini, "Saatnya Kita Kerja untuk Iklim", menurut Munafri harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang melibatkan keluarga, RT, hingga komunitas lokal. "Ketika keluarga bergerak, RT bergerak, komunitas bergerak, maka dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan dan masa depan kota kita," ujarnya.
Ia menekankan bahwa pemulihan lingkungan, pengurangan emisi karbon, pengelolaan sampah berkelanjutan, dan adaptasi perubahan iklim tidak boleh hanya menjadi target dalam dokumen perencanaan. "Ini adalah gerakan bersama yang harus kita lakukan," tegasnya.